Selasa, 21 April 2015

Arthur Schopenhauer




Arthur Schopenhauer
 adalah seorang Filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh pendidikan di Jerman, Prancis, dan Inggris. Ia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfrut, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860.

Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Budha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri  tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak".

Manusia menemukan di dalam dirinya bahwa kehendaklah yang menjadi pendorong. Oleh karena itu, kehendak adalah bagian hidup yang terdalam. Bagian hidup yang terdalam ini dapat menampikan diri sebagai kehendak yang lebih tinggi dan sebagai kehendak yang lebih rendah. Kehendak yang tampil sebagai kehendak yang lebih tinggi di dalam pikiran, yang menjadi objek di dalam diri manusia, yang menyebabkan adanya gagasan-gagasan tentang dunia. Juga tubuh manusia dapat tampak s
ebagai gagasan, menjadi objek pandangan akal, menjadi objek di antara objek-objek yang lain. Sedangkan kehendak yang tampil sebagai kehendak yang lebih rendah di dalam perbuatan tubuh yang dapat diamati. Di dalam hal ini, perbuatan kehendak dan aktifitas tubuh bukan dua hal yang berbeda yang dihubungkan secara kausal (yang satu menyebabkan yang lain), sebab keduanya adalah sama atau dengan kata lain identik. Aktifitas tubuh tidak lain adalah perbuatan kehendak yang telah diperagakan, yang telah diobjektivir. Dengan demikian, tubuh tidak lain adalah kehendak yang telah diobjektivir dalam ruang dan waktu.

Schopenhauer juga berpendapat bahwa keinginan manusia adalah sia-sia, tidak logika, tanpa pengarahan dan dengan keberadaan, juga dengan seluruh tindakan manusia di dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa keinginan adalah sebuah keberadaan metafisikal yang mengontrol tindak hanya tindakan-tindakan individual, agent, tetapi khususnya seluruh fenomena yang bisa diamati. Keinginan yang dimaksud oleh Schopenhauer ini sama dengan yang disebut dengan Kant dengan istilah sesuatu yang ada di dalamnya sendiri.


Power point : https://docs.google.com/presentation/d/1s2zH_nAC2XGwrpIse5rxs2eCa0-YAT3MGoQ7fQelYrk/edit?usp=sharing

Sabtu, 11 April 2015

Aku Berpikir, Maka Aku Ada


                Aku Berpikir, Maka Aku Ada atau biasa dikenal dengan kata “Cogito Ergo Sum” mungkin sudah biasa didengar oleh orang yang memiliki hobby dan kecintaanterhadap ilmu filsafat. Ungkapan itu terdengar sangat sederhana namun sesungguhnya memiliki makna yang begitu mendalam. Dari segifilosofis, Descartes mengungkapkan kalimat tersebut setelah ia memperoleh kebenaran dengan cara yang cukup unik, yakni dengan berusaha untuk meragukan segala sesuatu pada awalnya. Menurutnya, seseorang tidaka kan mencapai suatu kebenaran tanpa melewati sebuah keadaan ragu terhadap suatu yang terjadi. Menurut Descartes, tidak ada  yang pasti didunia ini, sebab semua harus diragukan. Yang tentu saja dengan itu dituntut sebuah pemikiran dan pembuktian terlebih karena ragu adalah langkah awal menuju sebuah kebenaran yang bisa saja dibuktikan secara empiris. Secara singkatnya, keraguan merupakan sebuah pertanyaan dasar yang haruslah dijawab sebagai langkah tahapan yang harus dilalui untuk memperoleh suatu kebenaran.
               Berpikir menuntut adanya kesadaran atas dasar objek yang dipikirkan dan merupakan salah satu perbedaan antara manusia dengan binatang. Hampir sama dengan ragu, berpikir juga menuntut adanya kesadaran pasti atas objek yang dipikirkan. Ketika anda meragukan suatu hal, itu sudah menunjukkan bahwa anda sedang melakukan aktifitas berpikir, karena ada sesuatu yang janggal atau membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Manusia diciptakan serupa dengan sang pencipta yakni Tuhan Allah. Manusia memiliki indera penglihat yaitu mata untuk melihat suatu objek. Lantas, biasanya orang akan dengan cepat menyimpulkan bahwa mata adalah satu-satunya yang bertindak dan berperan untuk melihat objek yang dibaca. Padahal itu merupakan pemahaman yang salah. Mengapa salah? Sebab selain mata, masih ada unsur lain yang sangat berperan sehingga mata bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Unsur itu dikenal dengan cahaya. Ya, disinilah pentingnya berpikir itu, sehingga kita tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tanpa memiliki pembuktian yang kuat.
               Kebenaran memiliki tingkat rasional. Ya, sebab mana mungkin kita bisa menerima suatu kebenaran yang tidak rasional bukan? Contohnya saja, apakah anda akan menerima pernyataan yang mengatakan jika anda terlahir dari sebuah batu? Anda pasti akan berpikir, secara logika hal itu tidaklah mungkin karena batu adalah sebuah benda mati. Nah, disinilah pentingnya berpikir secara rasional. Dengan berpikir, kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.