Minggu, 28 Juni 2015
IBNU 'ARABI - Hakikat Manusia
Pemikiran Ibnu ‘Arabi
Ibnu ‘Arabi memiliki inti pemikiran yang hampir sama dengan Plotinus dalam membagi jiwa dalam diri manusia. Menurutnya terdapat tiga jiwa partikular dalam diri manusia, yaitu jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa rasional. Kedua jiwa yang pertama lebih terikat erat dengan siklus biologis, yaitu aktivitas dari organ-organ tubuh. Dalam hal ini, Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa tubuh adalah modes dari jiwa universal atau al jism al kulli, sedangkan jiwa rasional merupakan jiwa yang hanya dimiliki oleh manusia, jiwa murni yang bersih dari kesalahan yang lebih terkait dengan yang diatasnya, yaitu akal. Ibnu Al ‘Arabi mengidentifikasikan jiwa ini sebagai hati mistis. Hal ini karena ia menerima pancaran dari akal dan menghendaki persatuan dengan sumber utama, yaitu Yang Esa.
Banyak kalangan berusaha membuktikan keniscayaan eksistensi figur pembawa keadilan ini. Entah dari sudut pandang teologi, filsafat, saintifik, ataupun yang lainnya. Salah satu tokoh Sufi paling masyhur, Ibnu Arabi (w.1240) pun turut menawarkan teorinya tentang Mahdiisme ini.
Menurut Izutsu (1983:219), pandangan dunia Ibnu Arabi didasarkan pada dua aspek: Yang Mutlak (the Absolute) dan Manusia Sempurna (the Perfect Man). Dari yang kedua inilah, keniscayaan tentang seorang yang akan menyelamatkan dunia—wali, dalam istilah Ibnu Arabi—diturunkan (Amuli, 1989).
Ibn Arabi menilai ‘manusia’ dalam dua aras. Pertama, aras kosmis. Di sini ‘manusia’ diperlakukan sebagai entitas kosmis. ‘Manusia’ pada aras ini adalah Imago Dei, Citra Tuhan. ‘Manusia’ sejatinya adalah sempurna; ‘manusia’ adalah sempurna. Mengapa? Karena dipandang dari aras kosmis, manusia adalah saripati sempurna dari alam semesta, spirit dari alam Wujud. Pada diri manusialah, semua unsur alam semesta terhimpun dan termanifestasi. Ringkasnya, ia adalah Mikrokosmos.
Pada aras kedua, Ibnu Arabi melihat manusia pada aspek individu. Di sini, tidak semua manusia adalah sempurna. Hanya segelintir orang yang berhak menyandang titel manusia sempurna. Selebihnya, kebanyakan manusia jauh untuk disebut sempurna.
Di tempat lain, Ibnu Arabi menyatakan bahwa ‘kemanusiaan’ manusia pada aras kosmis terletak pada ‘kemencakupannya’. Sebagai mikrokosmos, manusia memiliki semua kualitas yang terdapat di alam semesta. Tuhan memanifestasikan Diri-Nya pada diri manusia dengan cara yang sangat sempurna. Manusia, dengan demikian, adalah manusia sempurna lantaran ia merupakan teofani Allah yang paling sempurna.
Menurut Ibnu Arabi, manusia di tataran kosmis, atau Manusia Sempurna, terletak pada ‘kemencakupannya’. Pada diri manusia terdapat dua tanda pengenal, yang tidak dimiliki makhluk Tuhan lainnya, yang menjadikan dirinya disebut Manusia Sempurna. Yaitu, dialah satu-satunya wujud yang secara sempurna dan total menjadi hamba Allah (‘abd Allâh). Di luar dirinya, hanyalah memeragakan salah satu aspek Nama Tuhan, tidak merefleksikan sepenuhnya Tuhan. Pengenal kedua dari Manusia Sempurna adalah bahwa dirinya dalam pengertian tertentu Yang Mutlak itu sendiri (Izutsu, 1983:227). Dengan kata lain, Yang Mutlak adalah realitas batin (‘ayn) dari manusia, tetapi tidak sebaliknya.
Menyangkut manusia sempurna pada aras individu, Ibnu Arabi percaya itu hanya dimiliki orang-orang tertentu seperti nabi, rasul, dan wali. Konsep ‘wali’, bagi Ibnu Arabi, mencakup nabi dan rasul. Dalam hierarki spiritual Ibnu Arabi, peringkat puncak spiritual diduduki oleh maqam wali, kemudian nabi, dan terakhir rasul. Salah seorang komentator Ibnu Arabi, al-Qasyani, menuturkan, “Setiap rasul adalah nabi, dan setiap nabi adalah wali”. Namun, hal yang sebaliknya tidak berlaku.
Imam Mahdi sebagai Wali Zaman
Gagasan Ibnu Arabi tentang eksistensi wali mesti ada dalam setiap zaman ditarik dari kata wali (waliy) itu sendiri. Menurut Ibnu Arabi, kata waliy merupakan salah satu Nama Tuhan dan ia dapat diterapkan juga untuk manusia. Namun, dalam kasus nabi dan rasul, karena keduanya bukan salah satu Nama Tuhan, kenabian dan kerasulan berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Sebaliknya, mengingat wali termasuk dari nama Tuhan dan Tuhan eksis secara abadi, maka kewalian (wilâyah) akan eksis selamanya. Sepanjang di dunia ini ada manusia, walaupun satu orang, yang mencapai derajat wilâyah—dan orang semacam itu senantiasa ada—maka kewalian itu sendiri akan tetap terjaga.
Dari itu, andai kita hubungkan teori Ibnu Arabi dengan konsep Mahdiisme, maka teorinya memperkuat konsep Mahdiisme. Misalnya, Amuli (1989:156-7), salah satu juruulas Fushûsh al-Hikam, menyatakan:
“Dia (al-Mahdi) adalah Khalifah Agung Allah dan Kutub yang di sekitarnya seluruh dunia berputar; melaluinya juga kewalian ditutup dan diakhiri, seluruh kewajiban, perintah-perintah hukum, jalan-jalan spiritual dan agama ditutup. Melalui dia juga, seluruh semesta kembali kepada asalnya sebelum ia diciptakan. Melaui dia awal penciptaan dipertautkan dengan Hari Akhir dan melalui dia lingkaran penciptaan berakhir.”
Sementara di tempat lain, Amuli selanjutnya menuturkan kata-kata Ibnu Arabi ketika ia memilah subjek kewalian pada bagian-bagian yang berbeda;
Ketahuilah, kewalian dapat dibagi menjadi dua: kewalian mutlak dan kewalian tergantung, atau kewalian umum dan kewalian khusus. Jika kita anggap kewalian menyangkut pada dirinya sendiri, maka ia merupakan sifat Ilahi dalam pengertian mutlak; jika kita menganggap sebagai terkait dengan para nabi dan para wali, maka ia kewalian tergantung. Tambahan pula, yang tergantung diperkaya dan diberi validitas oleh kewalian mutlak dan yang mutlak mendapatkan manifestasinya dalam yang tergantung; jadi, kewalian para nabi dan wali merupakan bagian dari kewalian mutlak, sebagaimana kenabian para nabi merupakan bagian dari kenabian mutlak. Karena kenabian mutlak dari awal secara khusus milik Muhammad dan hakikatnya, dan kesinambungan ini dari realitas asli khusus milik para nabi dan rasul dari Adam hingga Isa (yang merupakan manifestasi-manifestasi berbeda dari realitas Muhammad), maka kewalian mutlak khusus untuk Ali bin Abi Thalib dan realitasnya (melalui pewarisan spiritual dan esensial dari prakeabadian) dan setelah itu (melalui kesinambungan realitas awal) kepada keturunannya yang suci. Garis spiritual ini merentang hingga Allah mengakhirinya dengan al-Mahdi (Amuli, 1989:122)
Sementara di tempat lain Ibnu Arabi mengatakan:
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Arabi) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fez, sehingga saya melihatnya sebagai khatam al-wilâyah darinya. Dia adalah khatamun nubuwwah mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirr-nya.
Paragraf di atas menunjukkan kepada kita bahwa Ibnu Arabi, menurut Amuli, pada dasarnya setuju dengan al-Mahdi yang dijanjikan dari Syi’ah Imamiyah sebagai penutup para wali. Bahkan dalam bukunya Imamah dan Khilafah, Muthahhari menegaskan ihwal pertemuan antara
Jika Syi’ah mengandaikan bahwa kehadiran imam di setiap zaman itu melalui pendekatan nas, maka Ibnu Arabi, sebagai “pucuk pimpinan” dalam dunia Sufisme, menghampirinya dengan pemaknaan kata. Bagaimanapun, kedua-duanya sama-sama meyakini hadirnya imam zaman yang menyaksikan amal perbuatan manusia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar